Pembelajaran Agama di Era Disrupsi, Masih Perlukah Ruang Kuliah?

Bagikan

SEMARANG – Kewajiban perguruan tinggi sebagaimana amanat undang-undang adalah Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup tiga hal (1) Pendidikan, (2) Penelitian, dan (3) Pengabdian Kepada Masyarakat. Ketiga kewajiban tersebut otomatis melekat pada setiap tenaga pendidik dan kependidikan di perguruan tinggi.

Tenaga pendidik dan kependidikan di perguruan tinggi, khususnya Dosen MKU Pendidikan Agama Islam memiliki tantangan besar dalam mengemban ketiga aspek tersebut. Dosen MKU PAI selain berperan untuk transfer of knowledge juga harus menjadi role model, menjadi uswah bagi pengamalan agama Islam. Apalagi di era disrupsi ini, tentu tantangan yang dihadapi dosen agama semakin besar.

Hemat kami, selama ini pembelajaran agama di kampus mengembangkan tiga pendekatan yakni (1) pembelajaran kritis, (2) pembelajaran indoktrinasi, dan (3) pembiasaan dalam bentuk pengamalan agama.

Pembelajaran agama di era disrupsi perlu didekati dengan cara yang tepat.

Secara bahasa, disrupsi (disruption) berarti hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan yang fundamental atau mendasar.

Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang mendasar adalah evolusi pada teknologi informasi.

Go-jek, grab, uber olx, dan aplikasi lain merupakan beberapa contoh perubahan yang mendasar. Dalam konteks pendidikan, bisa jadi suatu saat kampus tidak membutuhkan gedung karena semua pembelajaran via online.

Era disrupsi ini, pembelajaran mengalami perubahan total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaranyang lebih kreatif, beragam, dan menyeluruh.

Di Unnes, sudah merespon ini dengan membuat banyak aplikasi: sikadu, sitedi, simPKL, mulang, Unnes Info (telegram), dan lain-lain.

Meskipun demikian, peran dosen PAI tidak bisa digantikan dalam mengajarkan nilai-nilai etika, karakter, kebijaksanaan, pengalaman, dan empati kepada mahasiswa.

Agenda Riset Pendidikan Agama

LIPI mendefinisikan penelitian sebagai kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Perka LIPI Nomor 2 Tahun 2014).

Secara sederhana, penelitian pada dasarnya hanya mencakup M-D-A-S; masalah-data-analisis-simpulan.

Adapun Kebijakan teknis Badan Litbang dan Diklat kementerian Agama terkait penelitian mencakup (1) peningkatan relevansi topik-topik penelitian dengan program-program pembangunan, (2) peningkatan mutu hasil penelitian melalui diversifikasi metodologi penelitian, (3) peningkatan kompetensi peneliti melalui pendidikan formal maupun upaya lainnya, (4) peningkatan kerja sama dengan lembaga lain, baik pemerintah maupun LSM, (5) Sosialisasi hasil penelitian kepada masyarakat, (6) pengembangan jaringan peneliti.

Kebijakan teknis ada SK Kepala Badan Litbang dan Diklat Nomor 45 Tahun 2017 tentang Panduan Kerangka Sistem Penjaminan Mutu Penelitian dan Pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama. Selain itu, ada juga Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2018 tentang Standar Waktu Kegiatan Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama RI.

Secara struktur Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mencakup penelitian bidang (1) Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, (2) Pendidikan Agama dan Keagamaan, (3) Lektur Khazanah Keagamaan serta Manajemen Organisasi.

Balai Litbang Agama merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang yang berkantor di Jakarta, Semarang, dan Makasar.

Isu-isu penelitian di Kementerian Agama berupa policy research, penelitian kebijakan. Sementara, pada Perguruan Tinggi lebih menekankan pada pengembangan keilmuan, pure research. Kebijakan “baru” Kemenristek Dikti pada hilirisasi riset.

Agenda riset pendidikan Islam bisa dilihat dari beberapa kajian: (1) pesantren, baik salaf dan khalaf (2) madrasah: MI, MTs, MA (3) pendidikan agama Islam di sekolah dan perguruan tinggi, (4) sekolah Islam; sekolah Muhammadiyah, Ma’arif, Al-Azhar, Al-khoiriyah dan (5) majelis taklim, madrasah diniyah; ula, wustho, dan ulya.

Dalam kajian di perguruan tinggi Islam, pada umumnya terbagi menjadi beberapa fakultas: (1) tarbiyah, (2) syariah, (3) ushuluddin, (4) dakwah, dan ada juga (5) adab.

Pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang terbagi menjadi tiga bidang: bimas agama dan layanan keagamaan, pendidikan agama dan keagamaan, serta lektur dan khazanah keagamaan.

Hasil penelitian yang baik bisa dipublikasikan di jurnal. Jurnal yang baik adalah jurnal yang sudah terakreditasi baik oleh LIPI maupun Ristekdikti. Berikut ini beberapa link jurnal OJS yang sudah terakreditasi yang bisa menjadi alternatif memasukkan hasil penelitian pendidikan agama dan keagamaan:

https://blasemarang.kemenag.go.id/journal/index.php/analisa
https://blasemarang.kemenag.go.id/journal/index.php/smart; http://blajakarta.kemenag.go.id/journal/index.php/penamas; https://jurnaledukasikemenag.org/index.php/edukasi

Penelitian sejatinya tidak harus dengan biaya mahal. Beberapa contoh riset yang berbiaya murah: penelitian di sekolah sendiri, tempat kerja/kantor sendiri, kampus sendiri, penelitian di lingkungan tempat tinggal sendiri, dan lain-lain.

Penelitian akan lebih mudah dilaksanakan jika “dekat”. Konsep “dekat” bisa bersifat geografis maupun dekat secara keilmuan. Lebih dari itu, tentu penelitian yang baik adalah penelitian penelitian yang selesai alias rampung. Wallahu’alam. (*)Kuliah?, 

Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2018/11/08/pembelajaran-agama-di-era-disrupsi-masih-perlukah-ruang-kuliah?page=3.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *